Senin, 14 Juli 2014

Wilhelmus Wele


MEMILIH UNTUK MEMILIH
OLEH: WILHELMUS WELE
MAHASISWA STFK LEDALERO
Tanggal 9 Juli ini mempunyai sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia, pada Rabu ini kita akan menentukan pemimpin negara kita tercinta. Dalam bilik suara dengan hati yang jernih dan pikiran yang cerdas, kita menentukan siapa pemimpin negara kita. Prabowo-Hatta?, Jokowi-JK?
Hendaknya kita membuang jauh apriori agar apatisme dan pesimisme sirna, dan dengan tulus ke TPS. Pilihan merupakan kesadaran mutlak agar kelak kita sebagai rakyat tetap mampu menegakkan eksistensi NKRI. Artinya, kalau NKRI kelak mengarah ke lebih baik atau mungkin sekali lebih buruk, kita adalah sosok yang tampil berani menentukan pilihan lewat rasionalitas dan hati yang dalam.
Seluruh  elemen masyarakat, terutama generasi muda jadilah tulang punggung bangsa kita tercinta Bangsa Indonesia ini dengan mengambil bagian  untuk menggunakan hak pilihnya pada Pilpres hari ini (9 Juli 2014).
Setiap pesta demokrasi digelar, selalu saja ada orang yang tak ikut memilih atau memberikan suara. Faktor penyebabnya bisa beragam. Pada Pilpres mendatang, potensi warga yang tak menggunakan hak pilih tetap ada. Bisa juga jumlahnya meningkat. Mereka, yang biasa disebut golput (golongan putih), selalu ada di setiap pemilu di negara manapun.
Hal ini perlu diperhatikan dan menjadi peringatan bagi generasi muda bangsa Indonesia untuk tidak menggunakan prinsip “ saya memilih untuk tidak memilih” dalam pilpres ini. Prinsip memilih untuk tidak memilih (golongan putih) bukanlah suatu pilihan. Pilihan kita pada Pilpres ini dapat menentukan nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun kedepan. Generasi muda diharapkan untuk lebih optimis, peduli dan bahu membahu untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih hebat.
Mengapa generasi muda bangsa indonesia diharapkan untuk jangan menggunakan prinsip GOLPUT pada Pilpres ini? Alasannya, 1.kita membayangkan negara yang sedang perang atau sedang didamaikan oleh PBB, atau negara yang sedang sengketa. Negara yang sedang tertimpa pertumpahan darah antar saudara. Kita harus ikut mencoblos untuk tanda bersyukur bahwa bangsa kita sedang menikmati masa damai dan rakyat diperbolehkan berdemokrasi, 2.Sambil membayangkan negara lain yang terlalu miskin untuk menyelenggarakan pemilu, kita harus mengambil bagian dalam menyukseskan Pilpres untuk menunjukkan rasa bersyukur bahwa negara kita cukup makmur untuk menyelenggarakannya, 3.kita harus sadar bahwa kita mengharapkan kemaksimalan dari para pemimpin bangsa untuk memimpin secara maksimal sedangkan kita tidak memberikan suara secara maksimal kepada calon pemimpin bangsa. Kita meminta para pemimpin negara untuk tulus mengabdi demi kepentingan negara, kita sebagai warga negara juga harus menunjukan kerelaan untuk melangkah beberapa meter ke TPS dan memberikan suara kita dengan mencoblos satu calon pemimpin negara.
Memilih untuk tidak memilih alias golput, ini artinya pengabaian dan atau pembiaran terhadap hak hak kita, tetapi memilih dengan Rp50 ribu sama halnya kita merendahkan diri, hitung saja Rp50 ribu dibagi lima tahun, hasilnya Rp27,34. Betapa murahnya hak dan harga diri kita, yang dengan Rp50 ribu itu pula kita telah merusak demokrasi.
Golput atau golongan putih yang dicetuskan Arief Budiman lebih dari 40 tahun yang lalu adalah usaha untuk memberikan perlawanan pada rezim tirai Soeharto, dan kekuatan partai-partai yang ditata secara otoriter. Meski demikian, golput sesungguhnya secara esensial tidak menghidupkan mekanisme demokrasi.
Dengan mencoblos, api demokrasi akan hidup, dan sistem kepartaian perlahan terdorong untuk membaik sehingga kelak tanpa kita sadari dari balik kotak suara itulah negeri ini insya Allah bisa menjadi sejahtera. Mari kita coblosssssssssssssssssssssss