MEMILIH
UNTUK MEMILIH
OLEH:
WILHELMUS WELE
MAHASISWA
STFK LEDALERO
Tanggal
9 Juli ini mempunyai sejarah tersendiri bagi bangsa Indonesia, pada Rabu ini
kita akan menentukan pemimpin negara kita tercinta. Dalam bilik suara dengan hati yang
jernih dan pikiran yang cerdas, kita menentukan siapa pemimpin negara kita. Prabowo-Hatta?,
Jokowi-JK?
Hendaknya
kita membuang jauh apriori agar apatisme dan pesimisme sirna, dan dengan tulus
ke TPS. Pilihan merupakan kesadaran mutlak agar kelak kita sebagai rakyat tetap
mampu menegakkan eksistensi NKRI. Artinya, kalau NKRI kelak mengarah ke lebih
baik atau mungkin sekali lebih buruk, kita adalah sosok yang tampil berani
menentukan pilihan lewat rasionalitas dan hati yang dalam.
Seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda
jadilah tulang punggung bangsa kita tercinta Bangsa Indonesia ini dengan
mengambil bagian untuk menggunakan hak
pilihnya pada Pilpres hari ini (9 Juli 2014).
Setiap
pesta demokrasi digelar, selalu saja ada orang yang tak ikut memilih atau
memberikan suara. Faktor penyebabnya bisa beragam. Pada Pilpres mendatang,
potensi warga yang tak menggunakan hak pilih tetap ada. Bisa juga jumlahnya
meningkat. Mereka, yang biasa disebut golput (golongan putih), selalu ada di
setiap pemilu di negara manapun.
Hal ini perlu diperhatikan dan menjadi peringatan bagi generasi muda bangsa Indonesia untuk tidak menggunakan prinsip “ saya memilih untuk tidak memilih” dalam pilpres ini. Prinsip memilih untuk tidak memilih (golongan putih) bukanlah suatu pilihan. Pilihan kita pada Pilpres ini dapat menentukan nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun kedepan. Generasi muda diharapkan untuk lebih optimis, peduli dan bahu membahu untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih hebat.
Hal ini perlu diperhatikan dan menjadi peringatan bagi generasi muda bangsa Indonesia untuk tidak menggunakan prinsip “ saya memilih untuk tidak memilih” dalam pilpres ini. Prinsip memilih untuk tidak memilih (golongan putih) bukanlah suatu pilihan. Pilihan kita pada Pilpres ini dapat menentukan nasib bangsa Indonesia dalam lima tahun kedepan. Generasi muda diharapkan untuk lebih optimis, peduli dan bahu membahu untuk membangun bangsa Indonesia menjadi lebih hebat.
Mengapa
generasi muda bangsa indonesia diharapkan untuk jangan menggunakan prinsip
GOLPUT pada Pilpres ini? Alasannya, 1.kita membayangkan
negara yang sedang perang atau sedang didamaikan oleh PBB, atau negara yang
sedang sengketa. Negara yang sedang tertimpa pertumpahan darah antar saudara.
Kita harus ikut mencoblos untuk tanda bersyukur bahwa bangsa kita sedang
menikmati masa damai dan rakyat diperbolehkan berdemokrasi, 2.Sambil
membayangkan negara lain yang terlalu miskin untuk menyelenggarakan pemilu,
kita harus mengambil bagian dalam menyukseskan Pilpres untuk menunjukkan rasa
bersyukur bahwa negara kita cukup makmur untuk menyelenggarakannya, 3.kita
harus sadar bahwa kita mengharapkan kemaksimalan dari para pemimpin bangsa untuk
memimpin secara maksimal sedangkan kita tidak memberikan suara secara maksimal
kepada calon pemimpin bangsa. Kita meminta para pemimpin negara untuk tulus
mengabdi demi kepentingan negara, kita sebagai warga negara juga harus
menunjukan kerelaan untuk melangkah beberapa meter ke TPS dan memberikan suara
kita dengan mencoblos satu calon pemimpin negara.
Memilih
untuk tidak memilih alias golput, ini artinya pengabaian dan atau pembiaran
terhadap hak hak kita, tetapi memilih dengan Rp50 ribu sama halnya kita merendahkan
diri, hitung saja Rp50 ribu dibagi lima tahun, hasilnya Rp27,34. Betapa
murahnya hak dan harga diri kita, yang dengan Rp50 ribu itu pula kita telah
merusak demokrasi.
Golput
atau golongan putih yang dicetuskan Arief Budiman lebih dari 40 tahun yang lalu
adalah usaha untuk memberikan perlawanan pada rezim tirai Soeharto, dan
kekuatan partai-partai yang ditata secara otoriter. Meski demikian, golput
sesungguhnya secara esensial tidak menghidupkan mekanisme demokrasi.
Dengan mencoblos, api demokrasi akan
hidup, dan sistem kepartaian perlahan terdorong untuk membaik sehingga kelak
tanpa kita sadari dari balik kotak suara itulah negeri ini insya Allah bisa
menjadi sejahtera. Mari kita coblosssssssssssssssssssssss