Gambar Tuhan dalam hidup kita
Seorang
tukang perhiasan yang miskin tetapi jujur ditangkap karena tindakan kejahatan
yang tidak dilakukannya. Ia dijebloskan dalam penjara yang dijaga ketat di
tengah kota. Setelah mendekam dalam penjara, istrinya datang menjenguknya. Ia
menceriterakan kepada kepala penjara bahwa suaminya adalah tukang perhiasan
yang miskin, tetapi saleh dan jujur. Hidupnya akan lebih tersesat jika tidak
diijinkan menggunakan perlengkapan doa. Karena perlengkapan doa yang dibutuhkan
tampak tidak membahayakan, maka kepala penjara menyetujui permohonan sang istri
dan ia pun segera menghantarkan barang tersebut kepada si tukang perhiasan.
Beberapa minggu kemudian si tukang perhiasan berkata kepada seorang penjaga
“saya bosan meringkuk dalam sel dari hari ke hari tanpa berbuat sesuatu. Saya
ini seorang ahli perhiasan. Jika engkau mengijinkan saya membawa beberapa
potong logam dan peralatan sederhana, saya akan membuatkan bagimu perhiasan
yang indah. Engkau dapat menjual perhiasan-perhiasan itu di pasar murah untuk
memperoleh tambahan penghasilan. Saya hanya minta sedikit, sekadar imbalan dari
waktu, tenaga dan kepandaian yang telah saya gunakan”. Si penjaga itu pun
setuju dan ia sendiri akan mengatur semuanya. Setiap hari ia membawa beberapa
kepingan perak dan logam lainnya serta peralatan yang sederhana untuk si tukang
perhiasan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan.
Pada suatu pagi ketika para penjaga mengecek sel si tikang perhiasan, ternyata
sel itu sudah kosong. Tidak lama kemudian seorang penjahat ditangkap. Dia
inilah pelaku kejahatan yang menyebabkan si tukang perhiasan dijebloskan ke
dalam penjara. Pada suatu hari di pasar murah, seorang penjaga melihat si
mantan napi yaitu si tukang perhiasan sedang mejual perhiasannya. Segera si
penjaga mendekatinya dan menerangkan bahwa penjahat yang sebenarnya sudah
ditangkap. Kemudian ia bertanya pada si tukang perhiasan bagaimana ia dapat
melarikan diri, padahal penjagaan di penjara sangat ketat.dengan tenang si
tukang perhiasan itu menceriterakan pengelamannya yang sangat mengagumkan.
Rupanya istri si tukang perhiasan sudah pergi kekepala arsitek yang merancang
penjara itu. Dari kepala arsitek, ia mendapatkan cetak biru (model) dari lubang
kunci pintu sel. Kemudian ia merancang pola dan model kunci pintu sel dan
menenunnya diatas taplak meja doa, maka ia berdoa terus menerus. Lama-kelamaan ia
mulai melihat bahwa di dalam pola perhiasan taplak meja doanya ada suatu pola
yang berbentuk kunci pintu selnya. Dengan peralatan yang sederhana dan logam
yang dipergunakan untuk membuat perhiasan, si tukang perhiasan itu merancang
sebuah kunci, dan akhirnya ia dapat melarikan diri. ***willy wele***
ST.
TEKLA
Tekla adalah seorang gadis bangsawan
kafir yang cantik yang hidup pada abad pertama. Menurut
naskah Suriah dan
Yunani kuno, St. Thekla dilahirkan dari sebuah keluarga kafir yang makmur di
kota Likaonia dari Ikonium (sekarang Konya
). Ketika dia berumur 18 tahun ia bertunangan
dengan seorang pemuda bernama
Thamyris. Pada masa itu St. Paulus Rasul dan
St. Barnabas tiba
di Ikonium dan mengajar ajaran Yesus. Ibu
Theokleia melarang Tekla untuk berkumpul bersama dan mendengarkan Paulus
berkhotbah. Dari balik jendela kamarnya, ia berjuang
untuk mendengar khotbah St. Paulus. Dia sangat tersentuh dengan khotbah yang ia dengar tentang panggilan untuk mengikuti
Kristus
Tekla telah membaca banyak buku filsafat, namun tak ada satu pun yang
dapat memuaskan keingintahuannya tentang Pencipta-nya. Doa Tekla untuk mengenal
Allah yang satu dan benar terjawab ketika ia mendengar khotbah dari St. Paulus.
Kotbah ini menyadarkan Tekla bahwa seorang perempuan dapat menjadi pengantin
Kristus. Saat itu, Tekla tidak menginginkan yang lain selain dari
mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.
Orangtua Tekla yang kafir melakukan segala upaya agar Tekla meninggalkan
iman Kristianinya, tetapi ia tetap teguh. Tunangannya, Thamyris, memohon
kepadanya untuk tidak membatalkan pertunangan mereka. Tetapi, tekad Tekla sudah
bulat. Ia ingin menjadi pengantin Kristus. Pada akhirnya, karena amat marah,
Thamyris mengadukan Tekla ke pengadilan. Tekla tidak juga mau mengingkari
cintanya kepada Yesus, karenanya ia dijatuhi hukuman dengan dibakar sampai
mati. Gadis cantik tersebut dengan berani menyongsong maut. Namun, dikisahkan
bahwa segera setelah api dinyalakan, tubuh Tekla tidak terbakar. Kemudian ia dijadikan
mangsa bagi singa-singa yang kelaparan. Sebuah keajaiban, singa-singa bukannya
menerkam Tekla, malainkan mendekatinya dengan jinak, berbaring di sisinya, lalu
menjilati kaki Tekla, bagaikan anak kucing. Pada akhirnya, karena ketakutan,
hakim membebaskan Tekla. Tekla mengasingkan diri ke sebuah gua di mana ia
tinggal seumur hidupnya. Ia berdoa serta mewartakan Tuhan Yesus kepada
orang-orang yang datang mengunjunginya.
“Bagi Tekla,
diperlukan suatu keberanian besar untuk mengikuti Yesus”.***willy
wele***http://www.antiochian./life of thekla.
GEMA SABDA
Perikop Injil:
Matius 14:13-21
“Berbelas Kasih”
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Kita
berada di tengah dunia yang krisis akan nilai-nilai kemanusian. Bersamaan
dengan itu fenomena seperti aksi teror, peperangan, pelecehan seksual, dan
pembunuhan semakin merajalela. Tidak hanya itu, di sekitar kita pun ada orang
yang hidup dalam kekurangan antara lain kekurangan makanan, air, pakaian, dan
tidak bisa menempuh pendidikan karena faktor ekonomi. Keadaan seperti ini
seharusnya menyadarkan kita sebagai orang katolik untuk menemukan akar dari
permasalahan-permasalahan tersebut. Santa Teresa dari Kalkuta pernah
mengatahkan demikian: “seluruh dunia akan hancur bukan karena bahaya atom
melainkan disebabkan oleh ketiadaan kasih dalam diri setiap manusia”. Kata-kata
ini mengingatkan kita bahwa bukan
alat-alat seperti pedang, senjata ataupun bom yang berbahaya dan mengancam
kelangsungan hidup kita tetapi situasi batin yang kacau yang lebih berbahaya.
Santa Teresa menunjukkan bahwa manusia yang tidak berbelas kasih adalah manusia
yang berbahaya karena bisa menghancurkan dunia dan seisinya.
Saudara-saudari
yang terkasih dalam Kristus,
Yesus
dalam Injil hari ini menjadi tokoh utama yang mengajarkan kepada kita
orang-orang katolik untuk menanamkan nilai kasih dalam diri kita. Rasa berbelas
kasih itu harus tampak ketika kita berhadapan dengan situasi-situasi yang
membutuhkan bantuan kita. Hal ini dilakukan oleh Yesus ketika Ia melihat orang
banyak dan menyembuhkan mereka. Bahkan ia menyuruh para pengikut-Nya untuk
memberi orang banyak itu makanan bukan menyuruh mereka untuk pergi. Maka kita
dapat melihat ada peristiwa perbanyakan roti dan ikan yang dilakukan oleh
Yesus. Inilah wujud nyata dari iman, kasih dan perbuatan. Yesus melakukan itu
dengan sempurna. Dia melakukan di hadapan para murid-Nya dengan maksud agar
mereka pun dapat melakukannya ketika berada di tengah-tengah situasi yang
membutuhkan bantuan mereka.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Kitalah penerus dari misi Yesus. Dengan melihat fenomena
yang terjadi di sekitar kita maka sangat diharapkan agar kita pun berbelas
kasih dengan sesama kita yang menderita. Tidak cukup hanya dengan berdoa dan
menghadiri misa pada setiap hari Minggu kalau tidak ada kasih dalam diri kita.
Tidak cukup kalau hanya menjadi pengajar bagi orang lain jika kita sendiri
tidak memulai untuk melakukannya. Yesus mengajak kita untuk melakukannya dengan
sempurna. Bantulah sesama dengan kasih yang tulus bukan dengan rasa benci!
Bantulah sesama dengan kasih yang tulus tanpa dibungkusi oleh maksud tertentu!
Jangan menuntut kesempurnaan jika kita sendiri tidak sanggup meneruskan karya
Yesus dengan sempurna! Marilah kita bersama-sama melangkah membangun dunia
dengan kasih yang tulus!*** Fr. Patrick,
O.Carm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar