Senin, 22 September 2014

WARTEL 03 AGUSTUS 2014


Gambar Tuhan dalam hidup kita
Seorang tukang perhiasan yang miskin tetapi jujur ditangkap karena tindakan kejahatan yang tidak dilakukannya. Ia dijebloskan dalam penjara yang dijaga ketat di tengah kota. Setelah mendekam dalam penjara, istrinya datang menjenguknya. Ia menceriterakan kepada kepala penjara bahwa suaminya adalah tukang perhiasan yang miskin, tetapi saleh dan jujur. Hidupnya akan lebih tersesat jika tidak diijinkan menggunakan perlengkapan doa. Karena perlengkapan doa yang dibutuhkan tampak tidak membahayakan, maka kepala penjara menyetujui permohonan sang istri dan ia pun segera menghantarkan barang tersebut kepada si tukang perhiasan. Beberapa minggu kemudian si tukang perhiasan berkata kepada seorang penjaga “saya bosan meringkuk dalam sel dari hari ke hari tanpa berbuat sesuatu. Saya ini seorang ahli perhiasan. Jika engkau mengijinkan saya membawa beberapa potong logam dan peralatan sederhana, saya akan membuatkan bagimu perhiasan yang indah. Engkau dapat menjual perhiasan-perhiasan itu di pasar murah untuk memperoleh tambahan penghasilan. Saya hanya minta sedikit, sekadar imbalan dari waktu, tenaga dan kepandaian yang telah saya gunakan”. Si penjaga itu pun setuju dan ia sendiri akan mengatur semuanya. Setiap hari ia membawa beberapa kepingan perak dan logam lainnya serta peralatan yang sederhana untuk si tukang perhiasan. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Pada suatu pagi ketika para penjaga mengecek sel si tikang perhiasan, ternyata sel itu sudah kosong. Tidak lama kemudian seorang penjahat ditangkap. Dia inilah pelaku kejahatan yang menyebabkan si tukang perhiasan dijebloskan ke dalam penjara. Pada suatu hari di pasar murah, seorang penjaga melihat si mantan napi yaitu si tukang perhiasan sedang mejual perhiasannya. Segera si penjaga mendekatinya dan menerangkan bahwa penjahat yang sebenarnya sudah ditangkap. Kemudian ia bertanya pada si tukang perhiasan bagaimana ia dapat melarikan diri, padahal penjagaan di penjara sangat ketat.dengan tenang si tukang perhiasan itu menceriterakan pengelamannya yang sangat mengagumkan. Rupanya istri si tukang perhiasan sudah pergi kekepala arsitek yang merancang penjara itu. Dari kepala arsitek, ia mendapatkan cetak biru (model) dari lubang kunci pintu sel. Kemudian ia merancang pola dan model kunci pintu sel dan menenunnya diatas taplak meja doa, maka ia berdoa terus menerus. Lama-kelamaan ia mulai melihat bahwa di dalam pola perhiasan taplak meja doanya ada suatu pola yang berbentuk kunci pintu selnya. Dengan peralatan yang sederhana dan logam yang dipergunakan untuk membuat perhiasan, si tukang perhiasan itu merancang sebuah kunci, dan akhirnya ia dapat melarikan diri. ***willy wele***

 
ST. TEKLA
Tekla adalah seorang gadis bangsawan kafir yang cantik yang hidup pada abad pertama. Menurut naskah Suriah dan Yunani kuno, St. Thekla dilahirkan dari sebuah keluarga kafir yang makmur di kota Likaonia dari Ikonium (sekarang Konya ). Ketika dia berumur 18 tahun ia bertunangan dengan seorang pemuda bernama Thamyris. Pada masa itu St. Paulus Rasul dan St. Barnabas tiba di Ikonium dan mengajar ajaran Yesus. Ibu Theokleia melarang Tekla untuk berkumpul bersama dan mendengarkan Paulus berkhotbah. Dari balik jendela kamarnya, ia berjuang untuk mendengar khotbah St. Paulus. Dia sangat tersentuh dengan khotbah yang ia dengar tentang panggilan untuk mengikuti Kristus
Tekla telah membaca banyak buku filsafat, namun tak ada satu pun yang dapat memuaskan keingintahuannya tentang Pencipta-nya. Doa Tekla untuk mengenal Allah yang satu dan benar terjawab ketika ia mendengar khotbah dari St. Paulus. Kotbah ini menyadarkan Tekla bahwa seorang perempuan dapat menjadi pengantin Kristus. Saat itu, Tekla tidak menginginkan yang lain selain dari mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan.
Orangtua Tekla yang kafir melakukan segala upaya agar Tekla meninggalkan iman Kristianinya, tetapi ia tetap teguh. Tunangannya, Thamyris, memohon kepadanya untuk tidak membatalkan pertunangan mereka. Tetapi, tekad Tekla sudah bulat. Ia ingin menjadi pengantin Kristus. Pada akhirnya, karena amat marah, Thamyris mengadukan Tekla ke pengadilan. Tekla tidak juga mau mengingkari cintanya kepada Yesus, karenanya ia dijatuhi hukuman dengan dibakar sampai mati. Gadis cantik tersebut dengan berani menyongsong maut. Namun, dikisahkan bahwa segera setelah api dinyalakan, tubuh Tekla tidak terbakar. Kemudian ia dijadikan mangsa bagi singa-singa yang kelaparan. Sebuah keajaiban, singa-singa bukannya menerkam Tekla, malainkan mendekatinya dengan jinak, berbaring di sisinya, lalu menjilati kaki Tekla, bagaikan anak kucing. Pada akhirnya, karena ketakutan, hakim membebaskan Tekla. Tekla mengasingkan diri ke sebuah gua di mana ia tinggal seumur hidupnya. Ia berdoa serta mewartakan Tuhan Yesus kepada orang-orang yang datang mengunjunginya. “Bagi Tekla, diperlukan suatu keberanian besar untuk mengikuti Yesus”.***willy wele***http://www.antiochian./life of thekla.

GEMA SABDA
Perikop Injil: Matius 14:13-21
“Berbelas Kasih”
            Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Kita berada di tengah dunia yang krisis akan nilai-nilai kemanusian. Bersamaan dengan itu fenomena seperti aksi teror, peperangan, pelecehan seksual, dan pembunuhan semakin merajalela. Tidak hanya itu, di sekitar kita pun ada orang yang hidup dalam kekurangan antara lain kekurangan makanan, air, pakaian, dan tidak bisa menempuh pendidikan karena faktor ekonomi. Keadaan seperti ini seharusnya menyadarkan kita sebagai orang katolik untuk menemukan akar dari permasalahan-permasalahan tersebut. Santa Teresa dari Kalkuta pernah mengatahkan demikian: “seluruh dunia akan hancur bukan karena bahaya atom melainkan disebabkan oleh ketiadaan kasih dalam diri setiap manusia”. Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa  bukan alat-alat seperti pedang, senjata ataupun bom yang berbahaya dan mengancam kelangsungan hidup kita tetapi situasi batin yang kacau yang lebih berbahaya. Santa Teresa menunjukkan bahwa manusia yang tidak berbelas kasih adalah manusia yang berbahaya karena bisa menghancurkan dunia dan seisinya.

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
            Yesus dalam Injil hari ini menjadi tokoh utama yang mengajarkan kepada kita orang-orang katolik untuk menanamkan nilai kasih dalam diri kita. Rasa berbelas kasih itu harus tampak ketika kita berhadapan dengan situasi-situasi yang membutuhkan bantuan kita. Hal ini dilakukan oleh Yesus ketika Ia melihat orang banyak dan menyembuhkan mereka. Bahkan ia menyuruh para pengikut-Nya untuk memberi orang banyak itu makanan bukan menyuruh mereka untuk pergi. Maka kita dapat melihat ada peristiwa perbanyakan roti dan ikan yang dilakukan oleh Yesus. Inilah wujud nyata dari iman, kasih dan perbuatan. Yesus melakukan itu dengan sempurna. Dia melakukan di hadapan para murid-Nya dengan maksud agar mereka pun dapat melakukannya ketika berada di tengah-tengah situasi yang membutuhkan bantuan mereka.
            Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
            Kitalah penerus dari misi Yesus. Dengan melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita maka sangat diharapkan agar kita pun berbelas kasih dengan sesama kita yang menderita. Tidak cukup hanya dengan berdoa dan menghadiri misa pada setiap hari Minggu kalau tidak ada kasih dalam diri kita. Tidak cukup kalau hanya menjadi pengajar bagi orang lain jika kita sendiri tidak memulai untuk melakukannya. Yesus mengajak kita untuk melakukannya dengan sempurna. Bantulah sesama dengan kasih yang tulus bukan dengan rasa benci! Bantulah sesama dengan kasih yang tulus tanpa dibungkusi oleh maksud tertentu! Jangan menuntut kesempurnaan jika kita sendiri tidak sanggup meneruskan karya Yesus dengan sempurna! Marilah kita bersama-sama melangkah membangun dunia dengan kasih yang tulus!*** Fr. Patrick, O.Carm.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar